DASAR KONVERSI ENERGI
( GEOTHERMAL
)
Nama : Yayang Wahyudi
NRP : 13.2011.089
Mata Kuliah :
Dasar Konversi Energi
Dosen :
Ir, Zulkifli Saleh, M.eng
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG
2012
1. CADANGAN ENERGI
Kebutuhan akan
energi listrik yang semakin meningkat
dan menipis nya cadangan energi di bumi memaksa kita untuk mencari
sumber-sumber energi alternatif. Dalam upaya pencarian energi alternatif
sebaiknya memenuhi syarat yaitu menghasilkan jumlah energi yang cukup besar
dengan mutu atau kualitas yang baik dan serta tidak berdampak negatif terhadap
lingkungan.
Energi listrik dalam
jumlah yang cukup dan dengan mutu yang baik telah menjadi kunci keberhasilan
dan perkembangan yang pesat kegiatan-kegatan industri di negara-negara maju..
hal tersebut telah menyumbangkan kepada kemajuan ekonomi dan tingkat
kesejahteraan rakyat di negara-negara tersebut.
Menyadari akan
pentingnya keberadaan dan kebutuhan energi listrik tersebut,maka perencanaan
ketenaga listrikan patut di perhatikan demi tersenggaranya pembangunan
nasional. Untuk memenuhi kebutuhan listrik yang semakin pesat tersebut, maka
pemerintah bertekad terus meningkatkan
program pembangunan sarana dan prasarana
tenaga listrik untuk mejangkau wilayah yang lebih luas.
Di Indonesia yang kaya akan sumber daya alam nya
terdapat cadangan energi panas bumi atau yang disebut dengan “
Geothermal “
Panas bumi “ Geothermal “ adalah anugerah alam yang merupakaan sisa-sisa panas dari hasil reaksi nuklir yang pernah terjadi pada awal mula terbentuknya bumi dan alam semesta ini.
Reaksi nuklir yang masih terjadi secara alamiah di alam semesta pada saat ini adalah reaksi fusi nuklir yang terjadi di matahari dan juga di
bintang-bintang yang tersebar di jagat raya.
Reaksi fusi nuklir alami tersebut
menghasilkan panas berorde jutaan derajat Celcius. Permukaan bumi pada mulanya
juga memiliki panas yang sangat dahsyat, namun dengan berjalannya waktu (dalam
orde milyard tahun) suhu permukaan bumi mulai menurun dan akhirnya tinggal
perut bumi saja yang masih panas berupa magma dan inilah yang menjadi sumber
energi panas bumi.
Energi panas bumi digunakan manusia sejak
sekitar 2000 tahun SM berupa sumber air panas untuk pengobatan yang sampai saat
ini juga masih banyak dilakukan orang, terutama sumber air panas yang banyak
mengandung garam dan belerang. Sedangkan energi panas bumi digunakan sebagai
pembangkit tenaga listrik baru dimulai di Italia pada tahun 1904. Sejak itu
energi panas bumi mulai dipikirkan secara komersial untuk pembangkit tenaga
Listrik.
Energi panas bumi adalah termasuk energi primer
yaitu energi yang diberikan oleh alam seperti minyak bumi, gas bumi, batubara
dan tenaga air. Energi primer ini di Indonesia tersedia dalam jumlah sedikit
(terbatas) dibandingkan dengan cadangan energi primer dunia. Sebagai gambaran
sedikitnya atau terbatasnya energi tersebut adalah berdasarkan tabel data
dibawah ini :
Tabel Cadangan energi primer dunia
Cadangan minyak bumi
|
Indonesia 1,1 %
|
Timur tengah 70 %
|
Cadangan gas bumi
|
Indonesia 1-2 %
|
Russia 25 %
|
Cadangan batubara
|
Indonesia 3,1 %
|
Amerika utara 25 %
|
Sedangkan cadangan energi panas bumi di Indonesia relatif lebih besar bila
dibandingkan dengan cadangan energi primer lainnya, hanya saja belum dimanfaatkan
secara optimal. Selain dari pada itu panas bumi adalah termasuk juga energi
yang terbarukan, yaitu energi non fosil yang bila dikelola dengan baik maka
sumber dayanya relatif tidak akan habis, jadi amat sangat menguntungkan.
Khususnya di Indonesia Energi Panas Bumi,
perhitungan para pakar Geologi dan pertambangan menunjukan proteksi Indonesia
tak kurang dari 20.000 MegaWatt (MW) energi, atau setara 9 biliun barrel Minyak
Bumi untuk 30 tahun operasi. Tetapi pemanfaatanya sampai tahun 2002 lalu.
hanya sekitar 860 MW atau 4,3 % dari potensi. Perkiraan potensi energi
panas bumi itu yang dijelaskan oleh Subroto Modjo, dari perhitungan
setelah mengebor 244 sumur energi panas bumi dari Aceh sampai Irian Jaya, dari
hal ini Jawa Barat di Investigasi memiliki potensi panas bumi yang lebih baik.
Kemudian dilakukan pengeboran 5 sumur dangkal, kira-kira 6 meter dan yang
berhasil hanya 3 sumur. Dari ke-3 sumur tersebut, 2 sumur ditutup karena
diperkirakan ada gerakan tekfonik. (Sumber.
NUSA, Senin 12 September 2005).
Letak Indonesia yang sangat
strategis, membuat Indonesia berpotensi besar menyimpan energi panas bumi yang
cukup besar. Indonesia terletak dipertemuan tiga lempeng aktif yang
memungkinkan panas bumi dari kedalaman ditransfer kepermukaan melalui sistem
rekahan. Posisi strategis ini menempatkan Indonesia sebagai negara paling kaya
tersebar disepanjang busur vulkanik. Sehingga sebagian besar sumber panas bumi
di Indonesia tergolong mempunyai entalpi tinggi.
Indonesia sendiri mempunyai potensi panas bumi sebesar
27 GWe karena Indonesia berada di posisi kerangka tektonik dunia. Hal tersebut
pula yang membawa Indonesia berada diurutan keempat sebagai. Dan secara
temperatur yang tinggi Indonesia merupakan kedua terbesar.
Energi panas bumi banyak sekali
dimanfaatkan, karena merupakan salah satu sumber energi yang ramah lingkungan
jika dibandingkan dengan sumber energy fosil. Dan dalam proses ekstpolitasinya
tidak dibutuhkan permukaan lahan yang luas, hal ini juga menghindari terjadinya
kerusakan lingkungan yang besar-besaran mengingat proses penambangan di
Indonesia dengan jumlah lahan yang besar dan eksploitasi besar-besaran
menyebabkan kerukasakan lingkungan yang sangat luar biasa sehingga tidak heran
Indonesia sering sekali terjadi bencana.\
Sampai tahun 2004 diidentifikasi
terdapat 252 area yang berpotensi panas bumi sudah termasuk dalam inventarisasi
dan eksplorasi. Sebagian besar berada pada lingkungan vulkanik sisanya berada
dilingkungan batuan sedimen dan metamorf. Dari jumlah lokasi tersebut mempunyai
total potensi tersebut hanya 3% yang dimanfaatkan untuk energy listrik atau
sekitar 807 MWe dan 2% pemakaian energy listrik nasional.
Terbitnya UU No. 27 Tahun 2003
tentang panas bumi diharapkan akan memberikan kepastian hukum dalam mendorong investasi
untuk pengembangan panas bumi. Namun tetap diharapkan bahwa dalam proses
pemanfaatan tersebut tetap memperhatikan lingkungan agar tidak terjadi
kerusakan lingkungan akibat eksploitasi yang berlebihan.
1.A Proses
Terbentuknya Energi Panas Bumi (geothermal)
Kata Geothermal berasal dari bahasa yunani
yaitu, Geo yang berarti Bumi dan Therme yang berarti panas. Jadi
pengertian dari Geothermal adalah panas dari bumi. Menurut salah satu
teori, pada prinsipnya bumi merupakan suatu pecahan yang terlempar dari
matahari. Sebagai buktinya adalah bagian tengah pada bumi sampai sekarang masih
mempunyai suatu inti yang dalam keadaan meleleh dan panas.Pada dasarnya bentuk
bumi adalah bulat seperti telur, dimana kulit telur sebagai tempat dimana kita
tinggal yang dikenal dengan istilah kerak bumi.Besarnya kerak bumi sekitar 4,8
Km dibawah samudera dan sekitar 56 Km dibawah daratan atau kontinen.Dari
permukaan sampai dasar kerak bumi temperatur gradien yang normal adalah 17oC
– 30oC setiap 1000 m kedalaman, dibawah kerak bumi atau putih telur
disebut dengan mantel dan tebalnya sekitar 2880 Km karang lebih sama dengan
setengah jarak kepusat bumi, berupa cairan batuan dengan viskositasnya yang
sangat tinggi ( semi-malten) dengan temperatur antara 650oC – 1250oC.
Untuk pusat bumi sendiri disebut inti bumi, yang terbagi menjadi inti bagian
luar (outer core )yang cair ( liquid ) dan inti bagian dalam (inner core ) yang
padat (solid ) dengan temperatur yang sangat panas antara 4000oC –
7000oC. Semakin dalam temperatur bumi maka bumi akan semakin
panas.Diperkirakan ada bebarapa penyebab mengapa inti bumi berada dalam keadaan
tetap panas, diantaranya :
v Diperkirakan
tekanan yang luar biasa besarnya, karena gaya gravitasi bumi, sehingga bagian
yang tengah menjadi paling terdesak. Hal ini juga menyebabkan bahwa kepadatan
bumi menjadi lebih besar disebelah dalam.
v Bumi adalah
sebuah benda angkasa yang banyak mengandung unsur radioaktif seperti; Uranium
235, Uranium 238, Thorium 232, Uranium 233, Plutonium.
v Panas
matahari yang diserap bumi selama berjuta – juta tahun mengalir dan mengendap
kedalam inti bumi yang padat dan cair.
v Seperti
halnya sebuah reaktor atom, bahan – bahan radioaktif yang tersimpan
membangkitkan panas yang tinggi. Panas ini sebenarnya berusaha keluar, tetapi
ditahan oleh mantel yang mengelilinginya.
1.B
Hemat ruang
Apabila di
sekitar lingkungan eksploitasi panas bumi terdapat lahan pertanian, maka
keberadaannya tidak akan mengancam keberlangsungan lahan pertanian
tersebut. Bahkan adanya pembangkit listrik tenaga panas bumi justru mendukung
kegiatan-kegiatan yang ada di sekitarnya, seperti pertanian, budi daya perairan
tawar, serta petani bunga dan buah yang menggunakan sarana green house hasil
pemanfaatan fluida (air) dari panas bumi melalui metode heat exchanger (lihat
gambar 3 dan 4).
Gambar 3: Keberadaan PLTP di berbagai medan, tidak mengganggu keberaadaan
lingkungan di sekitarnya.
(Sumber: Daud, 2008)
Gambar 4: Diagram skematik pemanfaatan panas bumi langsung ke dalam beberapa aplikasi.
(Sumber: Daud, 2008)
2. PEMANFAATAN KLASIFIKASI
2.A Pemanfaatan
Langsung
|
|
2.B Produksi Listrik
listrik.
Uap tersebut digunakan untuk memutar sebuah turbin dan menggerakkan generator
dan menghasilkan listrik. Saat ini masih banyak pembangkit listrik yang
menggunakan bahan bakar fosil untuk mendapatkan uap dengan jalan mendidihkan
air. Sedangkan pembangkit listrik geothermal hanya membutuhkan uap yang
dihasilkan dari reservoir air panas yang berada beberapa kilometer di bawah
permukaan bumi.
Pembangkit listrik geothermal sendiri mempunyai tiga tipe berdasarkan uap yang dihasilkannya, yaitu : dry steam, flash steam dan binary cycle. Pembangkit listrik geothermal dengan tipe dry steam mengambil uap dari bawah tanah. Uap tersebut dialirkan ke dalam sistem pemipaan secara langsung dari bawah tanah ke turbin di suatu pembangkit. Tipe pembangkit geothermal flash steam adalah yang paling banyak digunakan. Mereka menggunakan reservoir air panas dengan temperatur lebih dari 182°C. Air super panas ini mengalir naik melalui sumur hasil pengeboran akibat tekanan yang ditimbulkannya sendiri. Ketika bergerak naik, tekanannya mulai turun dan sebagiannya mendidih menjadi uap. Uap tersebut kemudian dipisahkan dari air dan digunakan untuk menggerakkan turbin dan generator. Air yang tersisa serta uap yang mengalami kondensasi diinjeksikan kembali ke dalam reservoir untuk kembali dipanaskan dan menjadi energi yang berkesinambungan. Pembangkit listrik geothermal tipe binary cycle bekerja dengan memanfaatkan air panas yang bersuhu 107°— 182°C. Panas yang dimiliki air digunakan untuk mendidihkan suatu cairan tertentu yang biasanya terbuat dari bahan organik dengan titik didih rendah. Cairan kerja tersebut diuapkan di dalam heat exchanger dan digunakan untuk memutar turbin. Air panas yang sudah mengalami penurunan suhu, diinjeksikan kembali ke bawah tanah untuk dipanaskan kembali. Dalam pembangkit tipe ini, air dan cairan kerja dipisahkan selama proses. Pembangkit geothermal skala kecil, biasanya di bawah 5 MW, mempunyai potensi untuk dikembangkan di area pedesaan, bahkan bisa digunakan sebagai sumber energi terdistribusi dengan banyak jenis teknologi pembangkit yang bisa dikombinasikan guna meningkatkan unjuk kerja sistem distribusi listriknya. |
|
2.C Pemanfaatan energi panas bumi di Indonesia
Energi panas bumi memiliki kelebihan berupa:
1. Sustainable,
Panas bumi adalah sumber daya alam yang
dapat diperbarui, berpotensi besar, dikuasai oleh negara dan mempunyai
peran penting sebagai salah satu sumber energy pilihan. Tidak seperti energi
terbarukan lainnya, panas bumi selalu tersedia sehingga cocok sebagai pengganti
batu bara;
2. Ramah
lingkungan, Pemanfaatan panas bumi relatif ramah lingkungan, terutama karena tidak memberikan
kontribusi gas rumah kaca;
3. Tidak
terpengaruh fluktuasi harga minyak bumi. Pemanfaatan panas bumi akan mengurangi ketergantungan terhadap
bahan bakar minyak sehingga dapat menghemat cadangan minyak bumi dapat
menyelamatkan devisa negara karena menggantikan posisi bahan bakar fosil.
4. Tidak
membutuhkan penyimpanan, pengangkutan, dan lahan yang luas
2.D Sifat Fisik Batuan
Reservoir Panasbumi (Geothermal)
Sifat fisik batuan reservoir panasbumi terdiri dari
densitas batuan, porositas, wettabilitas, tekanan kapiler, saturasi,
permeabilitas dan kompresibilitas batuan.
1. Densitas Batuan
Densitas batuan berpori adalah perbandingan antara
berat terhadap volume rata-rata dari material. Densitas spesifik adalah
perbandingan densitas batuan pada tekanan dan temperatur normal, yaitu kurang
dari 103 kg/m3. Sebagai contoh, densitas spesifik di lapangan Wairakei adalah
1-3. Densitas spesifik batuan (bagian solid) antara 2,2-3.
Densitas batuan lapangan panasbumi umumnya sangat
berpengaruh terhadap heat content yang dikandungnya dan terdapat
hubungan yang berbanding lurus antara heat content dengan densitas
batuan. Semakin besar densitas batuan semakin besar heat content yang
dikandung oleh batuan. Densitas batuan pada lapangan panasbumi umumnya sangat
besar dibanding daerah non-vulkanik.
2. Porositas
Porositas batuan (Φ) didefinisikan sebagai
perbandingan volume pori (volume pori-pori yang ditempati fluida) terhadap
volume total batuan. Dalam reservoir panasbumi dikenal dua macam porositas,
yaitu porositas antar butir dan porositas rekahan. Pada umumnya reservoir
panasbumi hanya memiliki porositas rekahan. Secara matematis porositas dapat
dituliskan sebagai berikut:
Porositas dapat diklasifikasikan menjadi:
1. Porositas Primer, yaitu
porositas yang terbentuk selama proses pengendapan berlangsung. Dimana
porositas jenis ini lebih seragam.
2. Porositas Sekunder, yaitu
porositas yang terbentuk oleh proses-proses geologi setelah pengendapan
selesai. Porositas jenis ini relatif kurang seragam.
Porositas yang biasanya terdapat dalam reservoir
panasbumi adalah porositas sekunder, karena porositas ini berupa
rekahan-rekahan (fracture) yang timbul akibat proses geologi seperti
lipatan, sesar ataupun patahan. Porositas reservoir lapangan panasbumi dihitung
dengan mempertimbangkan tiga bentuk porositas, yaitu:
a. Porositas Fracture (Φf) didefinisikan
sebagai perbandingan volume fracture yang kurang teratur dengan volume
total batuan yang mengalami rekahan.
b. Porositas Matriks Batuan (Φm) didefinisikan
sebagai perbandingan volume antar butir dari matriks batuan dengan volume bulk
matriks batuan (tidak termasuk rekahan).
c. Porositas Bidang Fault (Φfp)
didefinisikan sebagai perbandingan volume bidang fault yang terbuka
dengan volume total bidang fault.
Peralatan logging akan mengukur porositas
total (Φt) yang kemudian dapat dihubungkan dengan bentuk-bentuk porositasnya
dengan mengikuti persamaan:
Keterangan:
= merupakan volume bidang fault dan
perbandingan dari volume total. Volume ini dapat dihitung dari ukuran
reservoir, ketebalan bidang fault dan banyaknya bidang fault yang
ada. fp V
= dapat berharga sangat tinggi jika bidang fault-nya
terbuka. Hal ini adalah normal, sebab bidang fault umumnya terdiri
dari hancuran batuan konglomerat dan rongga-rongga yang sangat permeabel. Jika
porositas bidang fault memiliki harga 50 % masih dianggap normal. fp φ
Porositas matriks analog dengan porositas pada
batuan sedimen, pengukuran porositas dilakukan didalam laboratorium dengan
menganalisa sampel core. Pada batuan vulkanik umumnya porositas
matriks batuan relatif kecil, kurang dari 10 %. Porositas rekahan sulit
ditentukan dengan sampel core sebab sampel core tidak dapat
mencerminkan adanya pecahan batuan. Tetapi sebagai perkiraan, porositas total
reservoir dapat dihitung dengan menggunakan Persamaan (2-2).
Porositas total batuan yang terekah dapat dihitung dengan persamaan:
Porositas dapat dibagi menjadi dua, antara lain:
1. Porositas Total, yaitu perbandingan antara
volume ruang kosong baik yang saling berhubungan maupun tidak berhubungan,
dengan volume batuan seluruhnya.
2. Porositas Efektif, yaitu perbandingan antara
volume ruang kosong yang saling berhubungan dengan volume batuan seluruhnya.
Harga porositas yang digunakan dalam perhitungan
adalah porositas efektif. Pada umumnya porositas rata-rata dari sistem media
berpori memiliki harga rata-rata antara 5-30 %.
3. Wettabilitas
Wettabilitas atau derajat kebasahan batuan
didefinisikan sebagai sifat dari batuan yang menyatakan mudah tidaknya
permukaan batuan dibasahi oleh fluida. Kecenderungan fluida untuk menyebar atau
menempel pada permukaan batuan dikarenakan adanya adhesi yang merupakan faktor
tegangan permukaan antara batuan dengan fluida. Faktor ini pula yang menentukan
fluida mana yang akan membasahi suatu padatan.
Tegangan antar permukaan akan timbul pada batas
permukaan antara fluida yang tidak saling larut, misalnya pada reservoir panasbumi
yaitu fasa uap dan fasa cair, di mana fasa cair akan cenderung melekat pada
permukaan batuan sedangkan fasa uap tidak mempunyai gaya tarik-menarik dengan
batuan maka fasa uap akan mudah mengalir.
Pada saat reservoir panasbumi mulai berproduksi
dengan saturasi cukup tinggi, sedangkan fasa cair hanya berupa cincin yang
melekat pada batuan formasi, butir-butir fasa cair tidak dapat bergerak, yaitu
ketika fasa uap merupakan fasa yang kontinyu dan bersifat mobile, lalu
setelah proses produksi mulai berjalan, fasa uap akan terus diproduksikan dan
apabila temperatur reservoir mulai mengalami penurunan, maka saturasi fasa uap
akan semakin menurun dan saturasi fasa air akan meningkat.
4. Tekanan Kapiler
Tekanan kapiler (Pc) didefinisikan sebagai
perbedaan tekanan yang terjadi antara dua permukaan yang tidak saling campur.
Besarnya tekanan kapiler dipengaruhi oleh tegangan permukaan, sudut kontak
antara fasa uap-cair-padat dan jari-jari kelengkungan pori.
Pengaruh tekanan kapiler dalam sistem reservoir
panasbumi, antara lain:
Mengontrol distribusi saturasi di dalam reservoir
panasbumi.
Merupakan mekanisme pendorong fasa cair dan fasa
uap untuk bergerak atau mengalir melalui pori-pori secara vertikal.
Berdasarkan pada Gambar 1.1 sebuah
pipa kapiler dalam suatu bejana terlihat bahwa fasa cair naik keatas
dikarenakan gaya didalam pipa akibat adanya gaya adhesi antara fasa cair dan
dinding pipa yang arah resultannya ke atas. Gaya-gaya yang bekerja pada sistem
tersebut antara lain:
1. Besar gaya tarik keatas adalah 2π rAT,
dengan r adalah jari-jari pipa kapiler.
2. Sedangkan besarnya gaya dorong kebawah adalah π
r2 hg (ρw- ρs)
Pada kesetimbangan yang tercapai kemudian, gaya
keatas akan sama dengan gaya kebawah yang menahannya yaitu gaya berat fasa
cair. Secara matematis dapat dinyatakan dalam persamaan berikut:
atau:
Keterangan:
h = ketinggian fasa cair didalam pipa kapiler, cm
r = jari-jari pipa kapiler, cm
ρw = massa jenis fasa cair, gr/cc
ρs = massa jenis fasa uap, gr/cc
g = percepatan gravitasi, cm/dt2
Dengan memperhatikan permukaan fasa uap dan fasa
cair dalam pipa kapiler maka akan terdapat perbedaan tekanan yang dikenal
dengan tekanan kapiler (Pc). Besarnya Pc sama dengan selisih antara tekanan
fasa cair dengan tekanan fasa uap, sehingga diperoleh persamaan sebagai
berikut:
Tekanan kapiler dinyatakan berdasarkan sudut kontak
dalam hubungan sebagai berikut:
Keterangan:
Pc = tekanan kapiler
simbol o = tegangan permukaan fasa uap-cair
simbol O-
= sudut kontak permukaan fasa uap-cair
r = jari-jari pipa kapiler
Menurut Plateau, tekanan kapiler merupakan fungsi
tegangan antar muka dan jari-jari lengkungan bidang antar muka dan dapat
dinyatakan dengan persamaan:
Keterangan:
R1 dan R2 = jari-jari kelengkungan konvek dan
konkaf, inch
o = tegangan permukaan, lb/inch
Penentuan harga R1 dan R2, dilakukan dengan
perhitungan jari-jari kelengkungan rata-rata (Rm), yang didapatkan
dari perbandingan Persamaan (2-7) dengan Persamaan
(2-8). Dari perbandingan tersebut didapatkan persamaan perhitungan
jari-jari kelengkungan rata-rata sebagai berikut:
Gambar 1.2. Distribusi dan Pengukuran Radius Kontak
Antara Fluida Pembasah dengan Padatan
Gambar 1.2 menunjukkan
distribusi serta pengukuran R1 dan R2. Kedua jari-jari kelengkungan tersebut
diukur pada bidang yang saling tegak lurus. Didapatkan bahwa tekanan kapiler
berbanding terbalik dengan ukuran butir batuan (grain size), jadi
semakin besar ukuran butir batuan maka semakin kecil tekanan kapiler dan begitu
juga sebaliknya.
5. Saturasi
Saturasi merupakan fraksi fluida yang menempati
pori-pori batuan reservoir. Pada saat sistem mengandung fasa cair dan fasa uap
dalam keadaan setimbang, maka kedua fasa tersebut akan terjenuhi. Dalam keadaan
demikian sifat tekanan dan temperatur tidak dapat berdiri sendiri. Ketika
tekanan dan temperatur ini diplotkan maka akan diperoleh suatu kurva saturasi,
kurva itu akan berakhir pada titik-titik kritis karena densitas dari fasa uap
dan fasa cair adalah sama dengan keadaan fluida dua fasa.
Secara matematis untuk saturasi masing-masing fasa
dapat dihitung sebagai berikut:
Keterangan:
Sv = saturasi fasa uap, fraksi
Sw = saturasi fasa cair, fraksi
ρs = densitas fasa uap, kg/m3
ρw = densitas fasa cair, kg/m3
h = enthalpi campuran, kJ/kg
hs = enthalpi fasa uap, kJ/kg
hw = enthalpi fasa cair, kJ/kg
6. Permeabilitas
Permeabilitas didefinisikan sebagai bilangan yang
menunjukkan kemampuan batuan untuk mengalirkan fluida pada media berpori.
Definisi kuantitatif pertama kali dikembangkan oleh Henry Darcy (1956) dalam
bentuk persamaan sebagai berikut:
Keterangan:
v = kecepatan aliran, cm/sec
= viskositas fluida yang mengalir, cp
= gradien tekanan dalam arah aliran, atm/cm dx dp
k = permeabilitas media berpori, darcy
Dari Persamaan (2-14) dapat dinyatakan
kecepatan alir fluida (kecepatan fluks) berbanding lurus dengan k/μ
(permeabilitas dibagi viskositas dinamis) atau k/μ biasa dikenal dengan mobility
ratio.
Gambar 1.3
Permeabilitas sekunder
Permeabilitas merupakan ukuran lubang yang
berhubungan dengan pori, sedangkan porositas merupakan ukuran ruang pori.
Permeabilitas ini dapat dibedakan menjadi:
1. Permeabilitas Absolut, yaitu permeabilitas
batuan dengan fluida yang mengalir hanya satu fasa (fasa cair atau fasa uap
saja).
2. Permeabilitas Efektif, yaitu permeabilitas
dengan fluida yang mengalir lebih dari satu fasa (fasa cair dan fasa uap yang
mengalir bersamaan).
Permeabilitas mempunyai nilai yang berbeda terhadap
arah x dan y, pada arah x dan y lebih besar
dibanding kearah z, maka sistem ini disebut anisotropic.
Apabila permeabilitas seragam kearah horizontal maupun vertikal disebut sistem isotropic.
Satuan permeabilitas adalah m2. Umumnya pada
reservoir panasbumi permeabilitas vertikal berkisar antara 10-14 m2, sedangkan
permeabilitas horizontal mencapai 10 kali lebih besar dibanding permeabilitas
vertikalnya.
7. Kompresibilitas Batuan
Kompressibilitas batuan didefinisikan sebagai
perubahan volume akibat perubahan volume per satuan perubahan tekanan. Batuan
yang berada pada kedalaman tertentu akan mengalami dua macam tekanan, yaitu
tekanan dalam (internal stress) yang disebabkan adanya tekanan
hidrostatik fluida yang terkandung dalam pori-pori batuan, sedangkan untuk
tekanan luar (external stress) disebabkan oleh overburden pressure
yang berasal dari batuan dan fluida pengisi yang berada diatasnya.
Kompressibilitas batuan dapat dibedakan menjadi:
Kompressibilitas matriks batuan (cr).
Kompressibilitas bulk batuan (cb).
Kompressibilitas pori-pori (cp).
2.E (Geothermal)
perubahan fisik batuan reservoir panasbumi karena alterasi
Batuan reservoir panasbumi yang mengalami alterasi
akan mengalami perubahan fisik, pada:
Hasil studi resistivity melalui
alterasi hydrothermal (Hochstein-Sharms, 1982)
mengelompokkan alterasi hydrothermal berdasarkan pada
perubahan fisik core dan cutting untuk
mengetahui tingkat alterasi, yaitu:
Very Low atau Unalter =
batuan belum teralterasi dan masih fresh
Low = teralterasi 20-40 %
Medium = teralterasi 40-60 %
High = teralterasi 60-80 %
Very High = teralterasi 80-100 %
1. Densitas
Pengendapan mineral secara langsung dan solution
menjadikan batuan reservoir akan meningkat densitasnya, sedangkan proses
pelepasan akan mengurangi densitas. Penambahan densitas paling banyak dijumpai
dengan porositas asli lebih kecil dari 5 %.
2. Porositas dan Permeabilitas
Proses pelepasan akan meningkatkan porositas,
sedang efek terhadap permeabilitas hanyalah perubahan kecil, teratur dan
kontinyu. Penurunan permeabilitas lebih cepat karena banyak dan cepatnya proses
pengendapan mineral pada proses pelepasan.
3. Sifat Magnetis
Pada sebagian lapangan panasbumi, kedua mineral (magnetite
dan titomagnetite) cepat berubah menjadi mineral non-magnetic
seperti pyrite dan hematite, ini menyebabkan batuan
reservoir menjadi de-magnetised seperti ditunjukkan Hochstein dan Hunt
(1970). Survei magnetometer adalah metode terbaik untuk menentukan lokasi dan
batas areal lapangan panasbumi, tetapi metode ini sangat sulit diterapkan di
lapangan.
Meskipun perubahan urutan mineral bervariasi dari
sistem ke sistem, ada hubungan umum antara mineral alterasi hidrotermal
dan suhu berkisar, seperti yang dirangkum oleh Henley dan Ellis (1983);
(Gambar 3.5). Beberapa mineral hidrotermal (seperti pirit, kalsit, dan kuarsa)
adalah sebagian kecil digunakan untuk mengevaluasi suhu dalam dan
permeabilitas, karena mineral yang stabil selama interval suhu yang besar.
Mineral yang paling informatif adalah feldspar autigenik yang sensitif terhadap
temperatur dan permeabilitas. Terjadinya mineral hidrotermal khas dari sistem panas
bumi aktif tergantung pada beberapa faktor seperti suhu, tekanan, komposisi
fluida, dan permeabilitas (Browne, 1970).
Gamba. Kisaran suhu
khas hidrotermal mineral perubahan yang diamati dalam sistem panas bumi aktif.
(Henley dan Ellis, 1983). Padat dan garis putus-putus menunjukkan yang paling
dan kurang sering suhu berkisar kejadian.
Beberapa mineral hidrotermal (misalnya, epidot dan
klorit) bentuk larutan padat yang dapat beradaptasi dengan batas tertentu
terhadap perubahan dalam komposisi batuan dengan mengubah komposisi, sehingga
meningkatkan jangkauan stabilitanya, komplikasi lebih lanjut karena
pengembangan mixed-layers mineral, melibatkan lempung dan
klorit. Meskipun komplikasi ini, sistem panas bumi dieksplorasi melalui
pengeboran kedalaman memiliki zonasi termal dari mineral ubahan hidrotermal,
untuk identifikasi empat zona alterasi hidrotermal.
Zona dangkal zona argilik, yang dicirikan oleh
adanya montmorilonit, ilit, klorit, dan zeolit- suhu rendah (misalnya, smektit,
stilbite). Zona ini berkembang sampai dengan suhu 150-160 ◦ C, di atas suhu ini
montmorilonit menjadi tidak stabil. Peningkatan kuat dalam klorit dan illite
serta munculnya lapisan campuran lempung ciri transisi ke
zona phyllitic, juga disebut zona ilit-klorit, yang berkembang sampai dengan suhu
dekat dengan 200-250 ◦ C. Mineral zeolit khas zona ini adalah laumontite.Zona
berikut, yang disebut zona propilitik atau zona-Ca-silikat Al, ditandai dengan kehadiran mineral sekunder, yang dekat dengan keseimbangan dengan netral, natrium-klorida larutan air. Zona ini berkembang sampai dengan suhu 300 ◦ C.
zona phyllitic, juga disebut zona ilit-klorit, yang berkembang sampai dengan suhu
dekat dengan 200-250 ◦ C. Mineral zeolit khas zona ini adalah laumontite.Zona
berikut, yang disebut zona propilitik atau zona-Ca-silikat Al, ditandai dengan kehadiran mineral sekunder, yang dekat dengan keseimbangan dengan netral, natrium-klorida larutan air. Zona ini berkembang sampai dengan suhu 300 ◦ C.
Epidot, mineral paling khas, dapat mulai membentuk
dalam jumlah kecil dalam zona phyllitic, tetapi menjadi berlimpah di zona
propilitik. Epidot biasanya disertai oleh adularia berlimpah, albite, dan
mineral sulfida (misalnya, pirit, pirhotit, dan sfalerit). Mineral zeolit khas
dari zona ini adalah wairakite. Klorit dan ilit juga stabil dalam zona ini,
namun kurang berlimpah daripada di zona phyllitic. Zona terdalam adalah zona
thermometamorphic, yang dicirikan oleh reorganisasi tekstur yang luar biasa
yang asli lithotypes dan dengan munculnya fase mineral temperatur tinggi,
seperti
Amfibol (misalnya, aktinolit dan tremolite), pyroxenes (misalnya, diopside), biotit, dan garnet.
Amfibol (misalnya, aktinolit dan tremolite), pyroxenes (misalnya, diopside), biotit, dan garnet.
Gambar. zona thermal
dan alterasi hidrotermal dan Geothermal Reservoar
Batuan dipengaruhi oleh perubahan argilik dan
phyllitic dicirikan oleh
permeabilitas yang sangat rendah. Bahkan, mineral khas dari kedua zona berperilaku
plastis di bawah tekanan mekanik, bertindak sebagai batuan hat reservoir. mineral hidrotermal dari zona propilitik dan thermometamorphic tidak rapuh , memungkinkan pengembangan fracture yang bertindak sebagai permeabilitas tinggi
jalur untuk cairan panas bumi. Oleh karena itu, dua zona alterasi hidrotermal
menunjukkan adanya reservoir panas bumi. log petrografi, yang umumnya dilakukan selama dalam pemboran panas bumi, didasarkan pada zonasi termal dari alterasi hidrotermal
permeabilitas yang sangat rendah. Bahkan, mineral khas dari kedua zona berperilaku
plastis di bawah tekanan mekanik, bertindak sebagai batuan hat reservoir. mineral hidrotermal dari zona propilitik dan thermometamorphic tidak rapuh , memungkinkan pengembangan fracture yang bertindak sebagai permeabilitas tinggi
jalur untuk cairan panas bumi. Oleh karena itu, dua zona alterasi hidrotermal
menunjukkan adanya reservoir panas bumi. log petrografi, yang umumnya dilakukan selama dalam pemboran panas bumi, didasarkan pada zonasi termal dari alterasi hidrotermal
2.F (Geothermal) Analisis kimia fluida dan isotop
air dan gas
Analisis kimia fluida dan isotop air dan gas dari
seluruh manifestasi panas permukaan dan daerah lainnya berguna untuk
memperkirakan sistem dan temperatur reservoir, asal sumber
air, karakterisasi fluida dan sistem hidrologi di bawah permukaan.
Adapun metode yang paling hanyak digunakan adalah sebagai berikut :
1. Metode Silika Geotermometer
Hal ini disebahkan karena metode ini sangat
dipengaruhi oleh proses — proses fisika seperti pendidihan (boiling) dan
pelarutan (dilution) karena metode ini dihitung berdasarkan
konsentrasi absolute silika dalam fluida, hukan berdasarkan rasio dari
konsentrasi tersebut.
Silika Geotermometer juga
dipengaruhi oleh kelarutan silika dalam air dan jumlah uap air (steam) yang
terbentuk pada tekanan uap (vapour). Dibawah ini merupakan rumus –
rumus yang digunakan untuk mengetahui berapa temperatur yang ada dibawah permukaan
berdasarkan persamaan Silika Geotermometer.
Tabel
geotermometerSilika
Pada suhu < 250° C dimana fluida yang
dipancarkan akan kehilangan uap air (steam loss) sehingga konsentrasi
silika meningkat tetapi tidak mengalami kehilangan atau penambahan panas (adiabatic).
2. Metode Na / K Geotermometer.
Pada sistem panasbumi bertemperatur tinggi, variasi
Na dan K sangat dikontrol oleh perubahan temperatur dan pertukaran ion — ion
yang terdapat dalam mineral alkali feldspar. Pada metode ini terdapat 7
persamaan untuk menghitung temperatur reservoir panasbumi yang ada dibawah
permukaan berdasarkan persamaan Na/K geotermometer (Nicholas 1993) dalam
(Sumintadireja. P,2005), yaitu :
1
|
T(C) = 856/I log (Na/K) +
0.857)1-273
|
Truesdell (1976)
|
2
|
T(C) = 883 /1 log ( Na/K) +
0,780)1-273
|
Tonani (1980)
|
3
|
T(C) = 933 /I log ( Na/K) +
0,993)1-273
|
Amorson (1983)
|
4
|
T(C) = 1319 /1 log ( Na/K) +
1,699)1-273
|
Amorson (1983)
|
5
|
T(C) = 1217 1 log ( Na/K) +
1,483)1-273
|
Fournier (1979b)
|
6
|
T(C) = 1178/1 log ( Na/K) +
1,470)1-273
|
Nieva & Nieval (1978)
|
7
|
T(C) = 1390 1 log ( Na/K) +
1,750)1I-273
|
Giggenbach (1988)
|
Dalam menggunakan persamaan Na/K geotermometer
sebaiknya digunakan 2 atau 3 persamaan agar penulis dapat memperoleh gambaran
besar rcntangan perbedaanya. Apabila hanya menggunakan satu persamaan saja maka
sebaiknya menggunakan formula dari Gigenhuch (1988) karena
menghasilkan tertinggi. Hal ini dikarenakan persamaan tersebut menggunakan
nilai tertinggi dari data, bukan menggunakan nilai tengah yang mempersentasikan
semua data (Nicholson 1993) dalam (Sumintadireja.P, 2005).
3. Metode Na-K-Ca Geothermometer
Persamaan ini dikembangkan oleh Fournier dan
Truesdall (1973) dalam (Sumintadireja.P.2005) untuk mengatasi
kekurangan metode sebelumnya yaitu Na-K geotermometer. Geotermometer ini
khususnya digunakan pada temperatur lebih rendah dan airnya kaya ion Ca.
Pertimbangan untuk memasukkan Ca dalam persamaan karena Ca adalah ion yang juga
terikut dalam kestimbangan feldspar dan berperan sangat baik dalam
pertukaran dengan mineral- mineral lempung. Sehingga Ca memiliki control
yang cukup besar dalam perhitungan Na-K geotermometer.
Persamaan geotermometer ini agak kompleks dan harus
diperhatikan benar-benar pemilihan factor β. Prosedur penggunaan formula adalah
sebagai berikut (unit yang digunakan untuk konsentrasi Ca adalah mg/kg).
1. Hitung [log(Cal/2/Na + 2.06]; bila
hasilnya positif, hitunglah temperatur T°C, menggunakan β = 4/3.
2.Apabila T < 1000 C gunakanlah
temperatur ini
3.Apabila T > 100°C atau (log(Ca
I/2/Na 2.06) hasilnya negatif, dihitung
temperatur T°C, menggunakan β = 1 /3.
temperatur T°C, menggunakan β = 1 /3.
Formula yang digunakan adalah
T Na-K-Ca °C =
1647 ________ -
273.15
Log Na/ K+ [log √NiCa/Na]+2,24
Keterangan : T Na-K-Ca > 70°C
Na, K dan Ca = konsentrasi Na, K, Ca dalam mg/kg
β= 4/3 apabila T < 100° C
β= 1/3 apabilaT >
C
Penggunaan geothermometer ini Jehih berhati hati
apabila digunakan pada suhu kurang dari 200°C khususnya juga pada
air yang kaya CO2. Sebaiknya tidak menggunakan geotermometer ini
untuk tipe air dengan kandungan Cl yang rendah atau air HCO3,
4. Metode Na-K-Mg Geothermometer
Metode ini dikembangkan oleh Gigenbach (1988)
dalam (Sumintadireja.P, 2005) yaitu dengan mengeplotkan Na/ 1000 —
K/100 √Mg dalam suatu diagram segitiga. Geotermometer ini menggabungkan dua
persamaan geotermometer lain yaitu Na/K dan K-Mg. Na/K mewakili proses
kesetimbangan reaksi didalam reservoir yang bersifat lambat, sedangkan K-Mg
mewakili proses kesetimbangan yang cepat pada daerah yang mendekati permukaan.
Dengan dernikian geotermometer ini dapat digunakan untuk mengevaluasi didalam
reservoir maupun dilevel dekat permukaan.
Keuntungan menggunakan metode ini adalah dapat
menggambarkan jumlah sampel yang sangat banyak dalam situ diagram sehingga
analisa semikuantitatif dapat di lakukan sekaligus.
Gambar : Diagram Geotermometer
K-Na-Mg
2.G PLTP dan
PLTU
Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) pada
prinsipnya sama seperti Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), hanya pada PLTU
uap dibuat di permukaan menggunakan boiler, sedangkan pada PLTP uap berasal
dari reservoir panasbumi. Apabila fluida di kepala sumur berupa fasa uap, maka
uap tersebut dapat dialirkan langsung ke turbin, dan kemudian turbin akan
mengubah energi panasbumi menjadi energi gerak yang akan memutar generator
sehingga dihasilkan energi listrik. Apabila fluida panasbumi keluar dari kepala
sumur sebagai campuran fluida dua fasa (fasa uap dan fasa cair) maka terlebih
dahulu dilakukan proses pemisahan pada fluida. Hal ini dimungkinkan dengan
melewatkan fluida ke dalam separator, sehingga fasa uap akan terpisahkan dari
fasa cairnya. Fraksi uap yang dihasilkan dari separator inilah yang kemudian
dialirkan ke turbin.
sumber gambar dari manvit.com
Jika penasaran dengan gambar dilapangannya :
Sumber gambar dari jcmiras.net
Banyak sistem pembangkitan listrik dari fluida panasbumi yang telah
diterapkan di lapangan, di antaranya:
1. Direct Dry Steam.
2. Separated Steam.
3. Single Flash Steam.
4. Double Flash Steam.
5. Multi Flash Steam.
6. Binary Cycle.
7. Combined Cycle.
8. Well Head Generating Unit
1. Direct Dry Steam.
2. Separated Steam.
3. Single Flash Steam.
4. Double Flash Steam.
5. Multi Flash Steam.
6. Binary Cycle.
7. Combined Cycle.
8. Well Head Generating Unit
2.H Kelebihan Energi Geothermal
Bila pembangkit listrik memanfaatkan tenaga panas bumi dilakukan dengan cara yang benar, tidak ada produk samping yang berbahaya bagi lingkungan. Pemerhati lingkungan pasti akan menyukainnya!
Pada proses produksi, tidak digunakan bahan bakar fosil. Selain itu, energi geothermal tidak menyebabkan efek rumah kaca apapun. Setelah pembangunan pembangkit listrik tenaga geothermal, hanya ada sedikit pemeliharaan. Dalam hal konsumsi energi, pembangkit listrik tenaga panas bumi adalah pembangkit energi mandiri.
Keuntungan lain untuk energi geothermal adalah bahwa pembangkit listrik tidak harus yang besar untuk melindungi lingkungan alam.
Bila pembangkit listrik memanfaatkan tenaga panas bumi dilakukan dengan cara yang benar, tidak ada produk samping yang berbahaya bagi lingkungan. Pemerhati lingkungan pasti akan menyukainnya!
Pada proses produksi, tidak digunakan bahan bakar fosil. Selain itu, energi geothermal tidak menyebabkan efek rumah kaca apapun. Setelah pembangunan pembangkit listrik tenaga geothermal, hanya ada sedikit pemeliharaan. Dalam hal konsumsi energi, pembangkit listrik tenaga panas bumi adalah pembangkit energi mandiri.
Keuntungan lain untuk energi geothermal adalah bahwa pembangkit listrik tidak harus yang besar untuk melindungi lingkungan alam.
2.I Kekurangan Energi Geothermal
Ada beberapa kekurangan pada energi geothermal. Pertama, Kita tidak bisa membangun pembangkit listrik tenaga panas bumi di sembarang lahan kosong di suatu tempat. Daerah tempat pembangkit energi geothermal yang akan dibangun harus mengandung batu-batu panas yang cocok pada kedalaman yang tepat untuk pengeboran. Selain itu, jenis bebatuannya harus mudah untuk dibor ke dalam. Hal ini penting untuk menjaga area sekitar karena jika lubang dibor dengan tidak benar, maka mineral dan gas yang berpotensi membahayakan bisa menyembur dari bawah tanah. Pencemaran dapat terjadi karena pengeboran yang tidak tepat di stasiun panas bumi. Dan juga, memungkinkan pula pada suatu area panas bumi tertentu terjadi kekeringan.
2.J Masa Depan Energi Geothermal
Karena energi geothermal dapat diandalkan dan terbarukan atau dapat diperbaharui berkelanjutan. pemanfaatan sumber daya ini akan semakin tumbuh. Namun, patut diingat bahwa energi geothermal belum tentu tersedia di banyak daerah. Daerah seperti California(USA), Islandia, Hawaii dan Jepang adalah beberapa tempat di mana energi panas bumi digunakan, karena banyak gempa bumi dan aktivitas gunung berapi bawah tanah.
Karena energi geothermal dapat diandalkan dan terbarukan atau dapat diperbaharui berkelanjutan. pemanfaatan sumber daya ini akan semakin tumbuh. Namun, patut diingat bahwa energi geothermal belum tentu tersedia di banyak daerah. Daerah seperti California(USA), Islandia, Hawaii dan Jepang adalah beberapa tempat di mana energi panas bumi digunakan, karena banyak gempa bumi dan aktivitas gunung berapi bawah tanah.
3. Jenis Prinsip Kerja Geothermal
prinsip kerja gheothermal
Secara prinsipnya setiap 100 meter kita turun ke dalam perut bumi,
temperatur batu-batuan cair tersebut naik sekitar 3º C. Jadi semakin jauh ke
dalam perut bumi suhu batu-batuan maupun lumpur akan makin tinggi. Bila suhu di
permukaan bumi adalah 27º C, maka untuk kedalaman 100 meter suhu bisa mencapai
sekitar 30º C. Untuk kedalaman 1 kilometer suhu batu-batuan dan lumpur bisa
mencapai 57º – 60º C. Bila kita ukur pada kedalaman 2 kilometer suhu batuan dan
lumpur bisa mencapai 120º C atau lebih.
Panas bumi tersebut bila bercampur dengan udara karena terjadi fracture
atau retakan maka selain menghasilkan air panas akan keluar juga uap panas (steam).
Air panas dan steam inilah yang kemudian
dimanfaatkan sebagai sumber pembangkit tenaga listrik. Agar panas bumi (geothermal)
tersebut bisa dikonversi menjadi energi listrik tentu diperlukan pembangkit (power
plants). Reservoir panas bumi biasanya diklasifikasikan ke dalam dua
golongan yaitu yang bersuhu rendah (low temperature) dengan suhu <150º C dan
yang bersuhu tinggi (high temperature) dengan suhu diatas 150º C. Yang paling
baik untuk digunakan sebagai sumber pembangkit tenaga listrik adalah yang masuk
kategori high temperature. Namun dengan perkembangan teknologi, sumber panas
bumi dengan kategori low temperature juga dapat digunakan asalkan suhunya
melebihi 50º C.
Pembangkit listrik (power plants) untuk tenaga panas bumi dapat
beroperasi pada suhu yang relatif rendah yaitu berkisar antara 122º s/d 482º F
(50º s/d 250º C). Bandingkan dengan pembangkit pada PLTN yang akan beroperasi
pada suhu sekitar 1022º F atau 550º C. Inilah salah satu keunggulan pembangkit
listrik geothermal. Keuntungan lainnya ialah bersih dan aman, bahkan
geothermal adalah yang terbersih dibandingkan dengan nuklir, minyak bumi dan
batu bara.
Pembangkit yang digunakan untuk mengkonversi fluida geothermal
menjadi tenaga listrik secara umum mempunyai komponen yang sama dengan power
plants lain yang bukan berbasis geothermal, yaitu terdiri dari generator,
turbin sebagai penggerak generator, heat exchanger, chiller, pompa, dan
sebagainya. Saat ini terdapat tiga macam teknologi pembangkit panas bumi (geothermal
power plants) yang dapat mengkonversi panas bumi menjadi sumber daya
listrik, yaitu dry steam, flash steam, dan binary cycle. Ketiga
macam teknologi ini pada dasarnya digunakan pada kondisi yang berbeda-beda.
3.A Prinsip Kerja Turbine Uap
Prinsip pokok dari semua pembangkit listrik bertenaga gas dan uap adalah Brayton
Bycle. Apabila kita hanya bicara tentang PLTG maka kita harus berpikir
tentang open cycle tetapi apabila ingin mengetahui siklus kerja PLTGU maka kita
harus mengetahui tentang combined cycle.
prinsip kerja turbin
Pada open cycle dimulai dari pemompaan bahan bakar dan pemasukan udara dari
intake air filter menuju combuster. Di combuster campuran bahan bakar dan udara
disemprotkan oleh nozzle sehingga di ruang bakar terjadi pembakaran. Pembakaran
tadi akan memutar turbin gas yang selanjutnya akan memutar generator yang akan
menghasilkan energi listrik. Gas buang dari turbin gas akan langsung dibuang
melalui bypass stack.
Sedangkan untuk PLTGU menggunakan combined cycle dimana gas buang
dari turbin gas akan dimanfaatkan kembali untuk mengoperasikan turbin uap.
Dibutuhkan HRSG (Heat Recovery Steam Generator) yang prinsip kerjanya sama
dengan boiler. Gas buang dari turbin gas tidak langsung dibuang melalui bypass
stack akan tetapi masuk ke HRSG. Setelah masuk ke HRSG maka gas tadi akan
berubah menjadi uap bertekanan tinggi yang kemudian digunakan untuk memutar
High Pressure Steam Turbine (HPST), kemudian HPST memutar Low Pressure Steam
Turbine (LPST) yng akhirnya akan membangkitkan generator. Hasil pembuangan LPST
akan dikondensasi dan dialirkan ke pompa. Dari pompa kemudian dilairkan kembali
ke HRSG. Begitu seterusnya sehingga terbentuk siklus tertutup.
3.B Prinsip Kerja Pembangkit
Listrik
prinsip kerja pembangkit listrik
Prinsip kerja Prinsip kerja Pembangkit Listik Tenaga Panas bumi
(PLTP) secara singkat adalah sbb :
Air panas yang berasal dari sumur akan disalurkan ke separator, oleh
separator air dengan uap dipisahkan, kemudian uap akan digunakan untuk
menggerakkan turbin.Ada dua sistim dalam pembangkit ini yaitu :
1. Simple flash (kilas nyala tunggal)
2. Double flash (kilas nyala ganda)
Dapat dikemukakan bahwa sistim double flash adalah 15-20 % lebih produktif
dengan sumur yang sama dibanding dengan simple flash.
Uap yang keluar dari sumur sering mengandung berbagai unsur kimia yang
terlarut dalam bahan-bahan padat sehingga uap itu tidak begitu murni. Zat-zat
pengotor antara lain Fe, Cl, SiO2, CO2, H2S dan NH4. Pengotor ini akan mengurangi
efisiensi PLTP, merusak sudu-sudu turbin dan mencemari lingkungan.
Perkiraan atau estimasi yang memberikan besarnya potensi energi panas bumi
menurut Metode Perry adalah : E = D x Dt x P
Dimana :
E = arus energi (kcal per detik)
D = debit air panas (liter per detik)
Dt = perbedaan suhu permukaan air panas dan air dingin (C)
P = panas jenis (kcal per kg)
Contoh PLTP yang telah beroperasi di Indonesia adalah PLTP Kawah Kamojang
dan PLTP Gunung Salak.
Namun demikian, dengan adanya PLTP masih potensi adanya pengaruh pada
lingkungan yaitu : Polusi Udara, Polusi air, Polusi suara dan Penurunan
permukaan air tanah.
4. PEMBANGKITAN LINGKUP
TEKNOLOGI
3 tipe Pembangkit Listrik Energi
Geotermal
1.
Dry
Steam Power Plants
Pembangkit tipe ini adalah yang pertama kali ada. Pada tipe ini uap panas (steam) lang-sung diarahkan ke turbin dan mengaktifkan generator untuk bekerja menghasilkan listrik. Sisa panas yang datang dari production well dialirkan kembali ke dalam reservoir melalui injection well. Pembangkit tipe tertua ini per-tama kali digunakan di Lardarello, Italia, pada 1904 dimana saat ini masih berfungsi dengan baik. Di Amerika Serikat pun dry steam power masih digunakan seperti yang ada di Geysers, California Utara.
Pembangkit tipe ini adalah yang pertama kali ada. Pada tipe ini uap panas (steam) lang-sung diarahkan ke turbin dan mengaktifkan generator untuk bekerja menghasilkan listrik. Sisa panas yang datang dari production well dialirkan kembali ke dalam reservoir melalui injection well. Pembangkit tipe tertua ini per-tama kali digunakan di Lardarello, Italia, pada 1904 dimana saat ini masih berfungsi dengan baik. Di Amerika Serikat pun dry steam power masih digunakan seperti yang ada di Geysers, California Utara.
2. Flash Steam Power Plants
Panas bumi yang berupa fluida misalnya air panas alam (hot spring) di atas suhu 1750 C dapat digunakan sebagai sumber pembangkit Flash Steam Power Plants. Fluida panas tersebut dialir-kan kedalam tangki flash yang tekanannya lebih rendah sehingga terjadi uap panas secara cepat. Uap panas yang disebut dengan flash inilah yang menggerakkan turbin untuk meng-aktifkan generator yang kemudian menghasil-kan listrik. Sisa panas yang tidak terpakai ma-suk kembali ke reservoir melalui injection well. Con-toh dari Flash Steam Power Plants adalah Cal-Energy Navy I flash geothermal power plants di Coso Geothermal field, California, USA.
3. Binary Cycle Power Plants (BCPP)
BCPP menggunakan teknologi yang berbe-da dengan kedua teknologi sebelumnya yaitu dry steam dan flash steam. Pada BCPP air panas atau uap panas yang berasal dari sumur pro-duksi (production well) tidak pernah menyentuh turbin. Air panas bumi digunakan untuk memanaskan apa yang disebut dengan working fluid pada heat exchanger. Working fluid kemu-dian menjadi panas dan menghasilkan uap berupa flash. Uap yang dihasilkan di heat exchanger tadi lalu dialirkan untuk memutar turbin dan selanjutnya menggerakkan genera-tor untuk menghasilkan sumber daya listrik. Uap panas yang dihasilkan di heat exchanger inilah yang disebut sebagai secondary (binary) fluid. Binary Cycle Power Plants ini sebetulnya merupakan sistem tertutup. Jadi tidak ada yang dilepas ke atmosfer.
Keunggulan dari BCPP ialah dapat dioperasikan pada suhu ren-dah yaitu 90-1750C. Contoh pene-rapan teknologi tipe BCPP ini ada di Mammoth Pacific Binary Geo-thermal Power Plants di Casa Di-ablo geothermal field, USA. Diper-kirakan pembangkit listrik panas bumi BCPP akan semakin banyak digunakan dimasa yang akan datang.
Masa Depan Listrik PanasBumi
Meningkatnya kebutuhan ener-gi dunia ditambah lagi dengan se-makin tingginya kesadaran akan kebersihan dan keselamatan lingkungan, maka panas bumi (geothermal) akan mempunyai masa depan yang cerah. Program EGS (enhanced geothermal systems) yang dilakukan Amerika Serikat misalnya, adalah suatu program besar-besaran untuk menjadikan geothermal sebagai salah satu primadona pembangkit listrik pada 2050 yang akan datang.
Indonesia sendiri sebetulnya sangat ber-peluang untuk melakukan pemanfaatan geo-thermal sebagai pembangkit listrik, bahkan berpotensi sebagai negara pengekspor listrik bila ditangani secara serius. Hal ini tidak berlebihan, mengingat banyaknya sumber geothermal yang sudah siap diekploitasi di sepanjang Sumatra, Jawa, dan Sulawesi. Untuk mempermudah pelaksanaannya tidak ada sa-lahnya bila kita bekerja sama dengan negara maju asalkan kepentingan kita yang lebih dominan. Misalnya kita bekerja sama dengan US Department of Energy (DOE) untuk men-dapat berbagai hasil riset mereka dalam EGS.• (Gilbert Hutauruk - SBTI-Direktorat Umum & SDM)
Sumber: www.pertamina.com
ü SISTEM-SISTEM
PANAS BUMI
Dalam proses eksplorasi panas bumi, keragaman kandungan dalam perut bumi,
secara alamiah menimbulan perbedaan sistem ekplorasinya. Berikut ini merupakan
sistem-sistem panas bumi yang timbul secara alamiah.
1.
Sistem Hydrothermal
Inilah
sumber daya panas bumi yang terbentuk dari aktivitas gunung berapi di masa
lampau. Potensi panas bumi yang dihasilkan oleh sistem ini terbagi menjadi tiga
jenis:
·
Uap kering, yaitu jenis yang dalam pemanfaatannya memiliki kapasitas
pembangkitan tinggi dengan biaya yang relatif murah. Sumber panas bumi jenis
ini digunakan untuk PLTP, antara lain di The Geyser (USA), Matsukawa (Jepang),
Kamojang dan Darajat (Indonesia), serta Larderello (Italia).
·
Air panas tanpa mineral, yaitu sistem panas bumi yang tergolong langka karena
kuatnya pengaruh lapisan batuan atau tanah terhadap pembentukan panas bumi.
·
Menghasilkan air panas mineral, yaitu sistem panas bumi yang banyak dijumpai di
dunia. Pengembangan panas bumi jenis ini memerlukan biaya operasi yang lebih
mahal karena pengoperasian yang lebih kompleks. Wayang Windu (Indonesia)
merupakan contoh dari jenis ini.
2.
Sistem Geopressured
Sistem ini
merupakan sumber panas bumi yang terbentuk pada daerah antara landas benua yang
mempunyai anomali tekanan overburden. Sistem ini menghasilkan energi
yang dapat dikonversikan, karena mempunyai sumber cadangan (reservoir) yang
bertekanan tinggi dan air panas yang dihasilkan mempunyai enthalpy yang
dapat dimanfaatkan dengan sistem binary cycle.
3.
Sistem Hot Dry Rock
Sistem ini
merupakan sistem energi panas bumi yang melulu hanya berupa batuan panas.
Dengan kemajuan teknologi energi panasnya diambil dengan cara penyuntikkan air
pada lapisan batuan permeabel (meloloskan) yang menutupi magma (reservori
panas bumi). Walaupun sistem tersebut saat ini masih mahal dan memerlukan
teknologi tinggi dalam pengeboran sesrta produksi uap, tetapi dapat diharapkan
bahwa uap yang dihasilkan mempunyai temperatur yang cukup baik, sekitar 170oC
dan jumlah uap yan stabil serta umur sumur yang panjang.
4.
Sistem Magmas
Sistem ini
disebut demikian karena adanya energi panas tak terhingga yang terkandung dalam
magma. Meskipun ada beberapa sumber panas bumi yang merupakan terobosan batholit
(intrusi granit), sistem panas bumi di Indonesia secara tipikal merupaan
gejala yang timbul akibat kegiatan gunung berapi di masa lalu. Hal tersebt
jelas terlihat pada sebagian besar potensi panas bumu di Indonesia yang
terletak di sepanjang jalur gunung berapi, mulai dari Sumatera, Jawa, Bali,
Nusa Tenggara, Maluku, dan Sulawesi. Secara kesuluruhan, potensi panas bumi di
Indonesia diperkirakan mencapai kurang lebih 27.000MW.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar